Inilah Alasan Game Horor Jepang Sering Fokus ke Karakter Perempuan
Kreator Silent Hill dan Fatal Frame ungkap alasan game horor Jepang sering berfokus pada karakter perempuan, dari latar zaman hingga tradisi hantu pendendam.
Seputar Otaku - Alasan game horor Jepang sering berfokus pada karakter perempuan dijelaskan dua kreator besar genre ini, Motoi Okamoto dari Silent Hill dan Makoto Shibata dari Fatal Frame. Penjelasan itu mereka sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Dengeki Online, yang digelar untuk merayakan kolaborasi Silent Hill f dan Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake.
Keduanya sepakat bahwa pilihan tersebut berkaitan erat dengan latar zaman, mitologi, dan sejarah lokal Jepang yang diangkat. Shibata menjelaskan bahwa Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake sengaja berlatar sekitar 1980-an, sebelum ponsel hadir. Dari sudut pandang orang modern, menurutnya, masa itu terasa mirip horor bertema gotik, yakni cerita yang memanfaatkan suasana masa lampau, tradisi, dan lingkungan beraura misterius.

Okamoto menyebut Silent Hill f berlatar sekitar 1960-an, ketika kepercayaan pada hal gaib, legenda supernatural, dan cerita rakyat masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Penulis ceritanya, Ryukishi07, mengusulkan tema utama berupa tradisi pernikahan dari sudut pandang perempuan Jepang pada masa itu. Okamoto mengaku awalnya terkejut, tetapi kemudian melihat potensinya karena perjodohan oleh keluarga saat itu masih lazim. Periode itu juga bertepatan dengan berkembangnya gerakan memperjuangkan hak sosial perempuan di Jepang, dan Okamoto menilai kondisi masyarakat yang sedang berubah itu selaras dengan tema Silent Hill f.
Menurut Okamoto dan Shibata, salah satu tujuan utama pilihan latar tersebut adalah mengangkat hubungan antara penindasan terhadap perempuan dan kemunculan hantu pendendam yang mengalami penindasan sebelum meninggal. Shibata menambahkan bahwa hantu perempuan, meski tampak lemah secara fisik, memiliki kekuatan supernatural yang membuat mereka terasa menakutkan. Okamoto melihat tradisi horor Jepang menggambarkan pembungkaman terhadap perempuan yang dirugikan dalam masyarakat yang saat itu didominasi laki-laki, dan bahwa perempuan yang telah menjadi hantu memiliki daya balas dendam yang kuat setelah mati.

Shibata juga menjelaskan mengapa Fatal Frame konsisten memakai protagonis perempuan. Dalam seri ini, pemain harus mempelajari kisah para hantu, memahami latar belakang mereka, lalu mendekati mereka sebelum bisa menenangkan arwah yang penuh dendam. Pendekatan itu berbeda dari sekadar mengalahkan musuh secara fisik. Menurutnya, protagonis laki-laki berpotensi mengarahkan permainan menjadi upaya menaklukkan atau mengalahkan hantu.
Okamoto lalu mencontohkan Yotsuya Kaidan, salah satu cerita hantu paling terkenal di Jepang, yang menampilkan Oiwa sebagai perempuan yang mengalami ketidakadilan. Cerita itu, katanya, memperlihatkan bagaimana penderitaan dan kebencian seseorang dapat bertahan setelah kematian. Karena itu, ia menilai gagasan tentang kekuatan balas dendam perempuan yang dibungkam dalam masyarakat patriarkal merupakan bagian dari tradisi horor Jepang.
Rekomendasi
Acara di Mana Fans Yuri Bertemu, Yuriten, Dibatalkan Usai Menggunakan Poster Buatan AI
1 day ago
Jepang Gelar Perayaan atas Heiji dan Kazuha Resmi Jadi Pasangan di Detective Conan Setelah 28 Tahun
1 day ago
Penampilan Ado di Konser K-Pop di Jepang Picu Amarah Penonton
2 weeks ago
10 Oktober Resmi Ditetapkan Sebagai "Hari Gintama" oleh Asosiasi Peringatan Jepang
2 weeks ago
Komentar
0 komentar di artikel ini
Komentar memakai akun Mokultur agar moderasi dan identitas komunitas tetap rapi.