Jepang

Mantan Guru di Jepang Ditangkap, Kirim Hampir 200 Email Tak Pantas kepada Siswi

Menurut laporan NHK, pria bernama Mamoru Yamaguchi (52), warga Kota Odawara yang kini berstatus pengangguran, ditangkap atas dugaan melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak Jepang.

👁 5
Daftar Isi
  1. Diduga Kirim 192 Email kepada Siswi Selama 1,5 Tahun
  2. Tersangka Bantah Tuduhan
  3. Kasus Terungkap Berkat Laporan Orang Tua Korban
  4. Reaksi Warganet Jepang

Seorang mantan guru di Jepang ditangkap oleh Kepolisian Prefektur Kanagawa setelah diduga mengirimkan hampir 200 email bermuatan tidak pantas kepada seorang siswi selama lebih dari satu tahun. Kasus ini memicu perhatian publik karena isi pesan yang dinilai melanggar privasi dan mengandung unsur eksploitasi terhadap anak.

Menurut laporan NHK, pria bernama Mamoru Yamaguchi (52), warga Kota Odawara yang kini berstatus pengangguran, ditangkap atas dugaan melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak Jepang.

Diduga Kirim 192 Email kepada Siswi Selama 1,5 Tahun

Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, Yamaguchi diduga mengirimkan 192 email kepada seorang siswi yang mengikuti kegiatan klub sekolah yang sebelumnya berada di bawah pengawasannya.

Aksi tersebut berlangsung selama sekitar satu setengah tahun, hingga Juli 2023. Dalam pesan-pesan itu, tersangka disebut berulang kali meminta siswi tersebut memberikan informasi mengenai siklus menstruasinya.

Guru Cabul

Tidak hanya itu, polisi juga mengungkap bahwa Yamaguchi diduga meminta korban melaporkan berbagai aktivitas pribadi yang bersifat dewasa. Namun, pihak berwenang tidak mengungkap secara rinci isi maupun bentuk aktivitas yang dimaksud.

Tersangka Bantah Tuduhan

Setelah ditangkap, Yamaguchi membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Dalam keterangannya kepada penyidik, ia mengklaim bahwa permintaan tersebut merupakan bagian dari prosedur administrasi yang sah.

"Saya menganggap itu sebagai prosedur administratif yang sah," ujar Yamaguchi, sebagaimana dikutip NHK.

Meski demikian, aparat kepolisian masih terus mendalami motif di balik pengiriman ratusan email tersebut.

Kasus Terungkap Berkat Laporan Orang Tua Korban

Kasus ini mulai terungkap pada awal tahun setelah ibu korban melaporkan dugaan tindakan tidak pantas tersebut kepada pihak berwenang.

Menindaklanjuti laporan tersebut, penyelidikan dilakukan hingga akhirnya berujung pada penangkapan Yamaguchi.

Sementara itu, Dewan Pendidikan Kota Odawara menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas kasus yang melibatkan mantan tenaga pendidik tersebut.

"Kami sangat menyesalkan insiden ini. Ke depannya kami akan memberikan pembinaan agar seluruh tenaga pendidik menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta menjunjung tinggi standar etika sebagai pelayan publik di bidang pendidikan," tulis pernyataan resmi dewan pendidikan.

Reaksi Warganet Jepang

Kasus ini memicu gelombang kecaman di media sosial Jepang. Banyak pengguna internet menilai tindakan yang dilakukan tersangka sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Sebagian warganet menyoroti bahwa pencatatan kondisi kesehatan, seperti siklus menstruasi, memang dapat dilakukan dalam konteks tertentu, misalnya pada kegiatan olahraga. Namun, mereka menegaskan bahwa permintaan tersebut harus memiliki tujuan yang jelas, dilakukan melalui prosedur resmi, serta tidak boleh disertai permintaan informasi yang bersifat pribadi atau seksual.

Ada pula yang mempertanyakan proses seleksi tenaga pendidik di Jepang, menyusul munculnya kasus serupa dalam beberapa tahun terakhir.

Kasus ini kini masih dalam penanganan Kepolisian Prefektur Kanagawa untuk mengungkap seluruh fakta serta memastikan ada atau tidaknya korban lain yang terdampak.

Komentar

0 komentar di artikel ini

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.