Game
Performa Game Unreal Engine 5 dan Kondisi Industri
Performa Game Unreal Engine 5 dan Kondisi Industri

Developer Soroti Performa Game Unreal Engine 5

Performa game berbasis Unreal Engine 5 sering menjadi perdebatan di kalangan pemain dan pengembang game. Banyak judul game terbaru yang menggunakan Unreal Engine 5 dianggap memiliki masalah performa, sehingga memicu kritik terhadap teknologi tersebut. Namun menurut seorang developer veteran, persoalan performa game tidak bisa hanya menyalahkan Unreal Engine 5, karena kondisi industri game modern juga memiliki pengaruh besar terhadap proses pengembangan dan optimalisasi.

 

 

Denis Dyack, kreator dari game Eternal Darkness dan Legacy of Kain, memberikan pandangannya terkait performa game yang dibuat menggunakan Unreal Engine 5. Dalam wawancara bersama KiwiTalkz, ia menegaskan bahwa masalah performa game tidak sepenuhnya disebabkan oleh Unreal Engine 5, melainkan berkaitan erat dengan realitas industri game saat ini. Dyack yang kini juga mengembangkan game Deadhaus Sonata menjelaskan bahwa Unreal Engine 5 merupakan teknologi game yang sangat fleksibel dan dapat digunakan untuk berbagai jenis proyek game.

Menurutnya, optimalisasi game yang menggunakan Unreal Engine 5 sangat bergantung pada jenis game yang sedang dikembangkan. Setiap game memiliki kebutuhan teknis berbeda, mulai dari game balap, game RPG open-world, hingga game 2D. Perbedaan desain game tersebut membuat proses optimalisasi pada Unreal Engine 5 menjadi jauh lebih kompleks. Tanpa pemahaman mendalam terhadap struktur proyek game, proses optimalisasi pada Unreal Engine 5 memang dapat menjadi tantangan besar bagi tim pengembang game.

Kompleksitas Tim Besar dalam Pengembangan Game

Dyack juga menyoroti bagaimana skala pengembangan game modern semakin besar dibanding masa lalu. Dalam satu proyek game berbasis Unreal Engine 5, jumlah developer bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Setiap anggota tim biasanya hanya mengerjakan satu aspek kecil dari game, seperti elemen visual, lingkungan, atau bahkan hanya detail rumput di dalam game yang dibuat menggunakan Unreal Engine 5.

Kondisi ini membuat koordinasi teknis dalam pengembangan game menjadi jauh lebih rumit. Tidak semua anggota tim game memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan game, sementara Unreal Engine 5 membutuhkan pemahaman teknis yang cukup dalam untuk menghasilkan performa game yang optimal. Dengan struktur tim yang sangat besar, proses optimalisasi game berbasis Unreal Engine 5 menjadi semakin sulit untuk dilakukan secara menyeluruh.

Tekanan Industri Game dan Dampaknya

Menurut Dyack, realitas industri game saat ini juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kualitas performa game. Banyak studio game tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan optimalisasi mendalam pada game mereka meskipun menggunakan Unreal Engine 5. Selama game masih bisa berjalan dan dirilis ke pasar, hal tersebut sering dianggap sudah cukup oleh sebagian studio game.

Fokus pengembangan game sering dialihkan pada penambahan konten baru agar game lebih menarik bagi pemain. Dalam situasi ini, optimalisasi game yang menggunakan Unreal Engine 5 kadang tidak dianggap sebagai prioritas karena tidak memberikan dampak pemasaran yang langsung terlihat pada industri game.

Krisis Industri Game yang Masih Terasa

Dyack bahkan menyebut kondisi industri game beberapa tahun terakhir sebagai extinction-level event. Istilah tersebut merujuk pada kegagalan kesepakatan senilai 2 miliar dolar antara Embracer Group dan Savvy Group pada tahun 2023 yang mengguncang industri game. Setelah kesepakatan itu batal, saham Embracer anjlok dan perusahaan game tersebut terpaksa melepas banyak studio game serta membatalkan berbagai proyek game.

Dampak dari situasi ini membuat banyak prototipe game dengan dana besar tiba-tiba masuk ke pasar. Publisher game pun lebih tertarik mendukung proyek game yang sudah terlihat matang. Sementara itu, studio game indie dan menengah semakin kesulitan bertahan di industri game yang kompetitif meskipun menggunakan Unreal Engine 5.

Dyack memperkirakan sekitar 50 hingga 70 persen developer game indie dan studio menengah sudah tidak lagi bertahan dalam industri game. Dengan kondisi tersebut, ia menegaskan kembali bahwa masalah performa game tidak dapat sepenuhnya menyalahkan Unreal Engine 5, karena tekanan besar dalam industri game juga menjadi faktor utama yang memengaruhi proses pengembangan game.