Popularitas Wisata Seks di Jepang Mengalami Peningkatan Ditengah Pelemahan Pada Nilai Mata Uang Yen
Lonjakan pariwisata lampu merah di Jepang sebagian disebabkan oleh normalisasi layanan orang dewasa
Rabu, 8 Januari 2025 | 14:54 WIB

Saat Jepang menghadapi tantangan ekonomi akibat melemahnya yen, situasi ini justru menarik perhatian wisatawan mancanegara. Tokyo kini semakin dikenal sebagai destinasi kehidupan malam, bahkan dibandingkan dengan Pattaya di Thailand yang lekat dengan citra wisata seks. Media sosial dan influencer tak sengaja mempromosikan sisi gelap hiburan malam di Tokyo, memperkuat stereotip negatif tentang perempuan Jepang yang dianggap patuh, eksotis, dan permisif secara seksual. Namun, gambaran ini tidak hanya muncul dari pandangan luar; faktor hukum dan budaya Jepang pascaperang turut berperan.
Dokumentasi: Satoshi Hirayama (Gambar Hanya Ilustrasi dan Pemanis)
Akar Stereotip Perempuan Jepang
Pandangan orientalis abad ke-19 menggambarkan Jepang sebagai sesuatu yang misterius dan erotis. Misalnya, karya seni seperti “Impian Istri Nelayan” karya Hokusai memperlihatkan sensualitas unik Jepang. Salah kaprah Barat tentang geisha sebagai teman erotis juga memperkuat anggapan bahwa perempuan Asia adalah sosok yang tunduk.
Dokumentasi: Satoshi Hirayama (Gambar Hanya Ilustrasi dan Pemanis)
Kesalahpahaman ini berlanjut hingga era modern, terutama melalui budaya populer seperti film dan konten dewasa. Kata “hentai,” yang berarti "abnormal" dalam bahasa Jepang, menjadi istilah pencarian global paling populer di situs dewasa seperti Pornhub, sementara “Jepang” menduduki peringkat keempat.
Industri Seks Jepang: Antara Hukum dan Bisnis
Jepang memiliki industri seks yang berkembang pesat, menghasilkan miliaran yen setiap tahunnya. Larangan hukum hanya mencakup penetrasi, sehingga berbagai layanan fetisisme tetap legal, mulai dari klinik pelecehan seksual hingga bar menyusui. Bahkan, menurut The Economist, Jepang memproduksi ribuan video dewasa setiap bulan.
Dokumentasi: Satoshi Hirayama (Gambar Hanya Ilustrasi dan Pemanis)
Fenomena ini didukung oleh norma sosial dan iklan yang tersebar luas di kota-kota besar seperti Tokyo. Iklan di tempat umum sering kali menghubungkan kecantikan fisik dengan validasi sosial, mendorong perempuan untuk menjalani operasi plastik demi keuntungan finansial atau perhatian dari pria.
Tren Baru: Bayar untuk Kasih Sayang
Selain sektor dewasa, subkultur baru seperti oshikatsu dan kafe bertema pria (mencon) menargetkan perempuan sebagai konsumen. Penggemar wanita rela menghabiskan banyak uang untuk mendukung idola favorit mereka atau membeli waktu dengan pria di kafe mencon. Dalam beberapa kasus, tekanan finansial membuat penggemar terpaksa menjadi pekerja seks untuk melunasi utang.
Dokumentasi: Satoshi Hirayama (Gambar Hanya Ilustrasi dan Pemanis)
Laporan polisi Tokyo menunjukkan bahwa lebih dari 40% perempuan yang ditangkap karena menjual tubuh mereka melakukannya untuk membayar kegiatan terkait pria chika atau klub tuan rumah.
Eksploitasi dalam Kehidupan Sehari-Hari
Komodifikasi tubuh perempuan dan laki-laki terlihat jelas dalam iklan yang mempromosikan industri hiburan dewasa, klub tuan rumah, dan bedah kosmetik. Di Shinjuku dan Shibuya, tisu gratis dengan iklan pekerjaan di sektor dewasa dibagikan di jalanan, bahkan di depan anak-anak.
Bagi sebagian perempuan, industri ini menjadi "jaring pengaman ekonomi" di tengah minimnya dukungan sosial dan peluang kerja berkualitas. Namun, harga yang harus dibayar sering kali berupa dampak psikologis yang berat, seperti yang dialami seorang remaja yang terpaksa bekerja di industri ini untuk mendanai pendidikannya.
Dokumentasi: Satoshi Hirayama (Gambar Hanya Ilustrasi dan Pemanis)
Tantangan Masa Depan
Meskipun industri ini dianggap memenuhi kebutuhan masyarakat, kenyataannya sering kali mengeksploitasi kerentanan, terutama di kalangan perempuan muda. Laki-laki muda juga tak luput dari dampaknya, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
Jika Jepang ingin memastikan masa depan yang lebih etis dan inklusif, penting untuk mengatasi ketimpangan sosial dan memberikan peluang yang layak bagi semua warganya. Langkah ini tidak hanya akan membantu mengurangi pariwisata seks tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian masyarakat.
Penulis

Danindra
bang DanBaca Juga




