Fenomena Buku Bekas Jepang Diborong Berton-ton demi Pelatihan Model AI
Belakangan terungkap bahwa lonjakan permintaan ekstrem ini didorong oleh perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) luar negeri demi memperkaya basis data model pembelajaran bahasa (large language models) mereka.
Pasar buku bekas di Jepang mendadak dilanda gelombang aksi borong skala masif. Ribuan literatur fisik dengan berbagai cakupan topik, mulai dari sejarah, filsafat, hukum, hingga sains, dikumpulkan dalam jumlah sangat besar dari berbagai toko online lokal sebelum akhirnya dikirim ke luar negeri.
Belakangan terungkap bahwa lonjakan permintaan ekstrem ini didorong oleh perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) luar negeri demi memperkaya basis data model pembelajaran bahasa (large language models) mereka.
Metode Pemindaian Ekstrem: Dipotong Lalu Dihancurkan

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Tom's Hardware, proses ekstraksi data dari buku-buku bekas ini dilakukan melalui tahapan destruktif yang cukup radikal:
-
Pengumpulan & Pengiriman Logistik: Berbagai buku fisik dikirim ke pusat logistik sebelum diterbangkan ke fasilitas pemindaian. Salah satu pengiriman bahkan mencatatkan angka fantastis hingga 50 ton buku ke Amerika Serikat.
-
Proses Digitalisasi: Jilidan buku dipotong secara fisik agar setiap lembar kertas dapat dipindai (scan) dengan cepat demi menyerap seluruh data teks digitalnya ke dalam sistem pembelajaran AI.
-
Peleburan Fisik: Setelah seluruh konten teks berhasil masuk ke dalam basis data digital, fisik buku-buku tersebut langsung dihancurkan atau dilebur agar tidak kembali beredar ke pasaran.
Dampak Ekonomi vs Kekhawatiran Kelestarian Literatur

Fenomena ini memicu perdebatan hangat di kalangan pemilik toko buku serta pegiat budaya:
-
Sisi Ekonomi: Dari sudut pandang bisnis, para pemilik toko buku bekas di Jepang menikmati lonjakan finansial yang masif, di mana omzet penjualan mereka dilaporkan meningkat hingga lima kali lipat dari biasanya.
-
Kekhawatiran Moral & Kelangkaan Budaya: Di sisi lain, aksi pemusnahan massal ini menimbulkan kekhawatiran moral yang mendalam. Banyak pihak khawatir hilangnya literatur cetak dalam jumlah tonase ini dapat mengikis ketersediaan karya-karya bersejarah serta memutus akses publik terhadap buku-buku langka yang sudah tidak dicetak ulang (out of print).
Tagar
Rekomendasi
Tokyo Diguyur Hujan 34 Hari Berturut-turut, Fans Mengaitkannya dengan Tenki no Ko
6 days ago
Biaya Izin Tinggal Permanen Jepang Naik 20 Kali Lipat jadi 200.000 Yen
6 days ago
Kreator Disgaea, Sohei Niikawa Ungkap Pandangannya soal Generative AI
2 weeks ago
Komunitas Forza Horizon 6 di Jepang Protes Masif Soal Gelombang Banned Mobil Itasha
3 weeks ago
Komentar
0 komentar di artikel ini
Komentar memakai akun Mokultur agar moderasi dan identitas komunitas tetap rapi.