Anime

Di Balik Layar "Romelia War Chronicle": Wawancara Eksklusif dengan Ryo Ariyama dan Ryo Kamito

Kali ini, tim Seputar Otaku berkesempatan untuk wawancara dengan Ryo Ariyama dan Ryoo Kamito. Kami berbincang dengan keduanya mengenai berbagai hal menarik!

👁 7
Daftar Isi
  1. Kesan Awal yang Dijaga demi Kesetiaan pada Sosok Romelia
  2. Ketika Peran Sudah Bicara Sendiri, Kontras yang Tak Perlu Dipaksakan
  3. Tantangan Menghidupkan Banyak Karakter
  4. Episode Pertama yang Paling Menguras, Mencari Jawaban di Tengah Tenggat
  5. Alasan Romelia Tak Dibuat Serba Bisa
  6. Dunia Fantasi lewat Kacamata Sejarah dan Ekonomi
  7. Elisabeth dan Romelia, Dua Karakter yang Paling Membekas
  8. Dari Lembar Novel ke Layar Anime, Mimpi yang Akhirnya Jadi Kenyataan

Dalam lanskap literatur fantasi mainstream yang sering identik dengan "The Chosen One", Romelia War Chronicle (Romelia Senki) muncul dengan sudut pandang yang lain. Karya ini tidak hanya menjanjikan petualangan sihir, tetapi juga membedah realitas pahit pasca-perang, logistik militer, dan dinamika kekuasaan yang sering diabaikan.

Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi dua kreator utamanya: Ryo Ariyama, penulis asli novel yang membangun fondasi naratif yang kokoh dan pragmatis, serta Ryo Kamito, komikus yang memberikan napas visual serta kedalaman emosional pada setiap panel adaptasi manganya.

Gambar: Ryo Ariyama (Kiri), Ryo Kamito (Kanan)

Kali ini, tim Seputar Otaku mendapat kesempatan untuk berbicara dengan kedua orang di balik Romelia War Chronicle, kami berbincang dengan keduanya mengenai proses kreatif di balik layar, tantangan membawa narasi kompleks ke dalam format visual, hingga antusiasme mereka menyambut adaptasi anime yang telah lama dinantikan para penggemar.

 

Baca juga artikel wawancara kami dengan Togenashi Togeari di sini!

 

Kesan Awal yang Dijaga demi Kesetiaan pada Sosok Romelia

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Sosok Romelia lahir dari visi Ariyama-sensei sejak novelnya pertama kali digarap. Baginya, karakter utama ini harus tampil sebagai perempuan cerdas dengan sorot mata penuh tekad, sebuah kesan yang bahkan ia titipkan langsung kepada ilustrator Kodama-san saat merancang sampul jilid pertama novel.

Bagi Kamito-sensei, yang baru terlibat ketika desain Romelia sudah rampung dibuat oleh Kodama-san, tantangannya justru terletak pada bagaimana ia bisa tetap setia pada kesan yang sudah terbentuk lebih dahulu. Ia mengaku sengaja tidak menyimpang jauh dari karakter yang sudah dikenal para pembaca novel.

"Saya ingin memastikan bahwa ketika para penggemar novel asli membaca manga-nya, mereka tidak merasa 'ini bukan Romelia yang saya kenal'," ungkap Kamito-sensei.

Ketika Peran Sudah Bicara Sendiri, Kontras yang Tak Perlu Dipaksakan

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Kesan megah namun angkuh dari kubu Pangeran Henri, berbanding kesederhanaan pasukan Romelia yang tampil praktis, sebenarnya lahir dari referensi yang berbeda. Ariyama-sensei menjelaskan bahwa pasukan Henri terinspirasi dari nuansa RPG klasik yang identik dengan perlengkapan mencolok, sementara pasukan Romelia lebih mengacu pada gaya strategy game yang membumi.

Menariknya, karakterisasi Pasukan Romelia justru baru benar-benar "hidup" setelah Kamito-sensei menuangkannya ke dalam bentuk visual manga, sebuah proses yang menurut Ariyama-sensei tidak pernah ia rancang mendalam sejak awal, mengingat ia tidak menyangka ceritanya akan berlanjut sepanjang ini.

"Momen saat saya melihat ilustrasi Pasukan Romelia buatan Kamito-sensei, saat itulah karakter-karakter tersebut seolah hidup di kepala saya. Dalam artian tertentu, Kamito-sensei bisa dibilang adalah pencipta Pasukan Romelia seperti yang kita kenal sekarang," ujar Ariyama-sensei.

Di sisi lain, Kamito-sensei sendiri mengaku tidak terlalu sadar tengah menonjolkan kontras di antara kedua faksi tersebut. Setiap kali merancang detail karakter, ia lebih dulu berdiskusi dengan Ariyama-sensei mengenai kepribadian dan gambaran visual yang ada di benak sang penulis, sebelum kemudian mengembangkannya lebih jauh.

Tantangan Menghidupkan Banyak Karakter

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Memindahkan narasi tertulis ke dalam bentuk visual yang hidup ternyata menghadirkan tantangan tersendiri bagi Kamito-sensei, khususnya perihal jumlah karakter yang tergolong sangat banyak. Ketika novel hanya menuliskan angka "sepuluh orang", di atas kertas manga ia harus benar-benar menggambarkan kesepuluh sosok tersebut secara utuh, lengkap dengan ekspresi masing-masing yang berbeda meski hanya berdiri diam sekalipun.

"Karena kesepuluh karakter itu adalah individu yang memiliki pemikiran dan kepribadian masing-masing, saya harus membuat setiap karakter 'berakting' dan menyampaikan emosinya sendiri. Ini salah satu hal yang saya nikmati, meski di saat yang sama juga terasa berat," jelas Kamito-sensei.

Episode Pertama yang Paling Menguras, Mencari Jawaban di Tengah Tenggat

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Jika ditanya momen paling menguras selama proses produksi manga, Kamito-sensei tidak ragu menjawab keseluruhan episode pertama. Karakter Romelia yang bertindak sepenuhnya demi orang lain tanpa mengharapkan imbalan justru menjadi pertanyaan besar baginya kala itu, apa sebenarnya yang mendorong kekuatan sebesar itu?

Sayangnya, jawaban atas pertanyaan tersebut belum ia temukan ketika tenggat waktu sudah semakin mendesak. Proses menggambar pun tetap harus berjalan di tengah keraguan itu.

"Deadline tidak akan menunggu hingga semua pertanyaan itu terjawab, jadi saya tetap harus melanjutkan proses menggambar. Saya ingat betul betapa saya bergulat dengan pertanyaan seperti, 'ekspresi apa yang akan ia tunjukkan dalam momen seperti ini?' selama menggarap episode tersebut," kenang Kamito-sensei.

Alasan Romelia Tak Dibuat Serba Bisa

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Berbeda dari kebanyakan tokoh utama perempuan pada karya fantasi yang kerap digambarkan serba kuat, Ariyama-sensei justru memilih arah lain untuk Romelia. Baginya, ada tema besar yang ingin ia sampaikan sejak awal penulisan: kebaikan tidak selalu berbuah hasil, namun orang-orang akan tetap berkumpul di sekitar mereka yang terus memperjuangkan hal yang benar.

Romelia sengaja dihadirkan sebagai perempuan cerdas dan penuh idealisme, namun tidak memiliki kekuatan fisik luar biasa dan bukan pula sosok yang bisa menyelesaikan segalanya seorang diri. Justru dari keterbatasan itulah, menurut Ariyama-sensei, muncul orang-orang di sekitarnya yang tergerak untuk membantu perjuangannya.

"Meskipun Romelia adalah tokoh utama dalam Romelia War Chronicle, salah satu tema cerita ini sesungguhnya adalah menggambarkan orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya. Dalam artian itu, mereka pun dapat dikatakan sebagai protagonis dengan caranya masing-masing," tutur Ariyama-sensei.

Dunia Fantasi lewat Kacamata Sejarah dan Ekonomi

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Alih-alih berfokus pada kekuatan sihir dan pertempuran garis depan seperti kebanyakan cerita fantasi pada umumnya, Ariyama-sensei justru menaruh perhatian besar pada logistik, strategi politik, hingga dampak sosial pascakekalahan Raja Iblis. Sudut pandang realistis ini lahir dari kegelisahannya terhadap kaidah fantasi yang selama ini dianggap sebagai aturan tak tertulis, misalnya lenyapnya seluruh monster begitu Raja Iblis dikalahkan agar dunia bisa kembali damai.

Ia mengaku memahami mengapa hal semacam itu diperlukan demi keberlangsungan cerita, namun justru aspek-aspek yang selama ini terabaikan itulah yang menarik perhatiannya untuk digali lebih jauh, terlebih dengan latar belakang ketertarikannya pada sejarah, masyarakat, dan ekonomi.

Elisabeth dan Romelia, Dua Karakter yang Paling Membekas

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Ketika ditanya karakter mana yang paling berkesan bagi masing-masing, Kamito-sensei dan Ariyama-sensei memberikan jawaban yang berbeda. Kamito-sensei memilih Romelia sebagai karakter favoritnya, dengan alasan daya tarik sang tokoh utama justru terletak pada sisi yang "lebih dari sekadar imut".

Sementara itu, Ariyama-sensei justru menaruh perhatian khusus pada sosok Elisabeth, karakter yang awalnya digambarkan sebagai perempuan tidak menyenangkan karena merebut seorang pria dari Romelia, namun kemudian mengalami transformasi besar hingga memegang peran penentu di akhir cerita.

"Saya percaya bahwa sebuah novel harus memiliki unsur kejutan sekaligus keindahan. Ketika memikirkan hal itu untuk Romelia War Chronicle, tiba-tiba terbayang sebuah adegan indah di kepala saya, dan di pusat adegan itu berdirilah Elisabeth," ungkap Ariyama-sensei.

Dari Lembar Novel ke Layar Anime, Mimpi yang Akhirnya Jadi Kenyataan

Romelia War Chronicle©Ryo Ariyama/Shogakukan/Komite Produksi "Romelia War Chronicle".

Bertahun-tahun proses kreatif yang dijalani Ariyama-sensei dan Kamito-sensei akhirnya bermuara pada momen besar: adaptasi anime. Bagi keduanya, kabar tersebut datang bagaikan mimpi yang sulit dipercaya.

Kamito-sensei mengaku sempat merasa tidak percaya ketika pertama kali ditawari kesempatan tersebut, sementara bagi Ariyama-sensei, pengalaman menggarap proyek anime menjadi momen yang sangat menyenangkan dan terasa seperti keberuntungan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

"Melihat karya sendiri diadaptasi menjadi anime adalah keberuntungan luar biasa. Namun, saya ingin merasakan kebahagiaan ini sekali lagi, sehingga saya berharap dapat menulis karya lain yang suatu hari nanti juga dapat diadaptasi menjadi anime," tutup Ariyama-sensei.

Perjalanan panjang Romelia War Chronicle, mulai dari coretan tema besar di kepala Ariyama-sensei hingga guratan pena Kamito-sensei yang menghidupkan setiap ekspresi karakternya, membuktikan bahwa sebuah karya besar lahir dari kolaborasi erat dan saling percaya antarsesama kreator.

Anime "Romelia War Chronicle" dijadwalkan untuk tayang tanggal 3 Oktober mendatang di platform Chrunchyroll.

Catatan: Jawaban wawancara di atas telah diterjemahkan dan disesuaikan dari segi bahasa demi kejelasan dan kenyamanan membaca tanpa mengubah konteks aslinya.

Komentar

0 komentar di artikel ini

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.