Anime Girls Band Cry Ternyata Kisah Nyata Member Togenashi Togeari?! Ini Pengakuan Jujur Mereka di AFA ID 2026!
Benarkah anime Girls Band Cry diangkat dari kisah nyata Togenashi Togeari? Simak interview eksklusif SeputarOtaku usai konser Rinne no Kotowari di AFA ID 2026!
Daftar Isi
- Langkah Perdana di Tanah Air, Antara Euforia Panggung dan Petualangan Kuliner Nusantara
- Eksplorasi Cita Rasa Lokal di Sela Gemuruh Konser
- Membawa Nyawa "Girls Band Cry" ke Atas Panggung, Energi Emosional untuk Penggemar Indonesia
- Resonansi Nyata dari Layar Kaca ke Dunia Nyata
- Potret Realistis Dinamika Anak Band, Keresahan Masa Muda dan Perjuangan Menolak Padam
- Dilema Ganda, Meniti Titik Temu Antara Voice Acting dan Chemistry Panggung
- Menempa Suara dari Nol, Tantangan Emosional di Balik Mikrofon Dubbing
- Dari Musisi Solo Digital Menjadi Satu Kesatuan Harmoni Panggung
- Jejak Awal dari Langkah Panjang, Pesan Inspirasi untuk Penggemar di Indonesia
seputarotaku.com, Jakarta - Panggung Anime Festival Asia Indonesia (AFA ID) 2026 yang digelar di ICE BSD pada 16 Agustus 2026 kemarin sukses memukau ribuan penikmat kultur pop Jepang di tanah air. Di antara deretan bintang tamu internasional yang tampil di main stage, kehadiran band rock asal Jepang, Togenashi Togeari (TogeToge) lewat panggung konser bertajuk Rinne no Kotowari, menjadi salah satu penampilan yang paling dinantikan. Lahir dari proyek anime original Toei Animation yang tengah naik daun, Girls Band Cry, band ini membuktikan bahwa pesona mereka tidak hanya terpancar dalam animasi dua dimensi, melainkan juga sangat solid di dunia nyata.
Di balik riuh sing along dan gemuruh tepuk tangan penonton selama penampilan debut mereka di Indonesia, tim Seputar Otaku berkesempatan melakukan sesi wawancara eksklusif bersama para member Togenashi Togeari. Obrolan mendalam ini membahas berbagai hal menarik, mulai dari antusiasme mencicipi kuliner lokal, energi yang ingin mereka sampaikan di panggung, potret jujur kehidupan anak band dalam anime, hingga perjuangan mereka membagi fokus antara voice acting dan bermusik secara profesional.
AFA ID 2026 Resmi Dibuka di ICE BSD: Rayakan Satu Dekade Festival Pop Culture Jepang Terbesar
Langkah Perdana di Tanah Air, Antara Euforia Panggung dan Petualangan Kuliner Nusantara

Mendarat di Jakarta menjadi momen pertama kalinya bagi para member Togenashi Togeari menginjakkan kaki di Indonesia. Meskipun jadwal utama mereka sangat padat demi memberikan performance terbaik bagi ribuan fans di AFA ID 2026, rasa penasaran untuk merasakan vibes lokal terlihat jelas dari antusiasme mereka.
Bagi mereka, melakukan perjalanan ke luar negeri untuk tampil di atas panggung memberikan pengalaman ganda yang unik, yaitu tanggung jawab profesional sebagai musisi sekaligus perasaan antusias layaknya sedang berlibur. Mereka mengungkapkan bahwa sambutan hangat di Indonesia membuat atmosfer kerja terasa menyenangkan layaknya sebuah trip santai.
Eksplorasi Cita Rasa Lokal di Sela Gemuruh Konser
Salah satu agenda wajib yang paling dinantikan setiap kali mengunjungi negara baru tentu adalah wisata kuliner. Sebelum naik ke panggung megah AFA ID 2026 untuk membawakan konser Rinne no Kotowari, para member sempat mengungkapkan rasa penasaran mereka terhadap kelezatan masakan khas Indonesia yang kaya rempah.
Rasa penasaran tersebut akhirnya terbayar selama rangkaian agenda konser berlangsung. Rina mengaku sangat menyukai cita rasa manis dan legit dari kue lapis legit tradisional. Tidak ketinggalan, Yuri juga menikmati hidangan khas nasi goreng serta mie goreng. Bagi mereka, mencicipi makanan lokal bukan sekadar mengisi energi sebelum tampil, melainkan cara yang menyenangkan untuk merasakan budaya setempat secara langsung.
Kisah Ado Saat Konser di Indonesia, Mulai Dari Ngidam Nasi Goreng Sampai Lagu Paling Melelahkan
Membawa Nyawa "Girls Band Cry" ke Atas Panggung, Energi Emosional untuk Penggemar Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa basis penggemar atau fanbase Togenashi Togeari di Indonesia berkembang sangat pesat sejak animenya dirilis. Lagu-lagu bernuansa rock dengan distorsi padat dan lirik emosional berhasil merebut perhatian para penikmat musik J-Rock serta komunitas pencinta anime lokal. Antusiasme yang luar biasa ini disadari sepenuhnya oleh para member.
Ketika ditanya mengenai energi yang ingin mereka bawa ke hadapan ribuan penonton, Togenashi Togeari menegaskan tekad mereka untuk tampil maksimal secara autentik. Mereka memahami bahwa mayoritas penggemar di tanah air mulai mengenal mereka melalui perjalanan karakter di serial anime Girls Band Cry.
"Kami tahu banyak sekali fans TogeToge di Indonesia yang mengikuti kami dari anime Girls Band Cry. Kami ingin menunjukkan secara langsung kepada kalian semua bagaimana band TogeToge dan animenya itu sendiri saat tampil live di depan panggung," ungkap mereka.
Resonansi Nyata dari Layar Kaca ke Dunia Nyata

Bagi Togenashi Togeari, panggung live konser Rinne no Kotowari bukan sekadar ajang unjuk kebolehan teknis bermusik, melainkan representasi jiwa dari karakter yang mereka mainkan. Ketukan drum yang bertenaga, petikan bass yang solid, distorsi gitar yang tajam, hingga luapan vokal yang emosional dihadirkan agar para penonton tidak hanya menyaksikan sebuah konser musik, tetapi juga merasakan katarsis emosional yang selama ini hadir di layar kaca.
Potret Realistis Dinamika Anak Band, Keresahan Masa Muda dan Perjuangan Menolak Padam
Daya tarik utama dari anime Girls Band Cry terletak pada visualisasi dinamika antaranggota band yang realistis dan jauh dari narasi persahabatan klise. Perbedaan prinsip, gesekan ego, hingga rasa insecure digambarkan secara apa adanya. Menariknya, para personel Togenashi Togeari merasakan bahwa situasi di anime sangat relevan dengan realitas yang mereka jalani di dunia nyata.
Menurut mereka, anime ini memotret masa transisi krusial, yaitu momen ketika kobaran semangat dan idealisme masa muda perlahan memudar seiring bertambahnya usia. Di kehidupan nyata, banyak orang terpaksa menahan keresahan atau mengubur mimpi mereka karena tuntutan hidup.
"Kami merasa apa yang diceritakan di anime ini cukup realistis, seperti jiwa semangat muda yang perlahan mulai memudar saat beranjak dewasa. Hal-hal seperti inilah yang justru diperjuangkan di Girls Band Cry, karena mengangkat keresahan yang dipendam banyak orang," ujar Rina dan Yuri.
Pesan mengenai keberanian untuk bersuara dan mempertahankan jati diri inilah yang membuat karya mereka sangat berkesan. Kisah perjuangan ini tidak hanya relevan bagi mereka yang berkecimpung di dunia musik, tetapi juga bagi siapa saja, khususnya generasi muda yang tengah berjuang meraih impian di tengah realitas yang menantang.
Dilema Ganda, Meniti Titik Temu Antara Voice Acting dan Chemistry Panggung

Format anime Girls Band Cry menempatkan para anggotanya pada tanggung jawab ganda yang cukup menantang. Selain dituntut tampil memukau memainkan instrumen musik secara nyata, mereka juga berperan sebagai seiyuu (pengisi suara) utama bagi karakter masing-masing. Proyek ini pun menjadi debut karier profesional perdana mereka di industri hiburan.
Ketika ditanya mengenai hal yang paling menantang antara berakting di studio rekaman atau membangun chemistry di panggung, mereka mengungkapkan bahwa kedua ranah tersebut menghadirkan tingkat kesulitan yang berbeda namun sama-sama berat.
Menempa Suara dari Nol, Tantangan Emosional di Balik Mikrofon Dubbing
Dunia voice acting menjadi medan yang sepenuhnya baru bagi hampir seluruh anggota. Sebelum dinyatakan lolos audisi, mayoritas dari mereka sama sekali belum memiliki latar belakang akting suara, kecuali Natsu (Keyboardist) yang memiliki sedikit pengalaman di panggung teater.
Kondisi tersebut membuat proses rekaman awal terasa sangat mendebarkan. Setelah audisi selesai dan para anggota dipertemukan untuk pertama kalinya, sesi rekaman suara langsung dimulai tanpa masa adaptasi yang panjang. Di awal proses tersebut, mereka menyadari bahwa kualitas akting yang dihasilkan masih memerlukan banyak evaluasi.
Akan tetapi, situasi mereka yang sama-sama berstatus pemula justru memperkuat solidaritas tim. Dengan saling memberikan dorongan semangat di dalam studio, mereka terus belajar menyampaikan emosi secara mendalam dan memberikan nyawa pada karakter yang mereka bawakan.
Dari Musisi Solo Digital Menjadi Satu Kesatuan Harmoni Panggung

Dari aspek musikalitas, proses adaptasi yang mereka jalani juga tidak kalah menantang. Meskipun sebelum bergabung masing-masing member sudah aktif mengunggah video cover lagu di internet, bermain musik secara individu memiliki dinamika yang sangat berbeda dibandingkan menyatukan tempo dan rasa di dalam sebuah band nyata.
Shuri (Bassist) turut menceritakan proses panjang serta adaptasi yang mereka lalui selama membangun formasi ini.
"Voice acting menjadi tantangan yang sangat besar bagi kami karena pengalamannya benar-benar nol. Di sisi musik, kami memang bisa memainkan instrumen karena sering upload di internet, namun kami belum terbiasa bermain bersama orang lain. Untuk membangun chemistry dan membuat band ini benar-benar solid membutuhkan waktu yang cukup lama dan prosesnya terasa berat," ungkap Shuri.
Bermain solo di hadapan kamera berfokus pada penguasaan teknis pribadi, sementara bermain dalam format band membutuhkan komunikasi yang peka, keselarasan groove, serta ikatan emosional antarmusisi. Penyatuan karakter ini memerlukan komitmen dan kerja keras yang tidak sedikit. Hasil dari dedikasi tersebut akhirnya terbukti lewat penampilan mereka yang sangat rapi dan bertenaga di AFA ID 2026 kemarin.
Jejak Awal dari Langkah Panjang, Pesan Inspirasi untuk Penggemar di Indonesia

Penampilan impresif Togenashi Togeari di ICE BSD membuktikan bahwa kerja keras, kejujuran emosi, dan keberanian melangkah keluar dari zona nyaman mampu melampaui batasan bahasa maupun geografis. Berawal dari musisi kamar di ranah digital dan pemula di studio dubbing, kini mereka berhasil berkembang menjadi salah satu unit rock baru yang patut diperhitungkan di industri musik Jepang.
Bagi para penggemar di Indonesia, kehadiran Togenashi Togeari lewat set panggung Rinne no Kotowari bukan sekadar tontonan hiburan konser biasa. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata atas pesan yang selalu mereka suarakan lewat karya-karya mereka, bahwa kegelisahan dan keresahan masa muda dapat diubah menjadi energi berkarya yang membakar semangat.
Kunjungan perdana Togenashi Togeari di Indonesia telah meninggalkan kenangan yang manis. Mulai dari cerita kuliner lapis legit dan nasi goreng, antusiasme penonton di ICE BSD, hingga energi panggung yang luar biasa, para penikmat musik di tanah air tentu menantikan aksi panggung mereka selanjutnya di Indonesia.
Tonton video wawancara lengkapnya di sini
Catatan: Kutipan wawancara di atas telah diterjemahkan dan disesuaikan dari segi bahasa serta dipersingkat demi kejelasan dan kenyamanan membaca tanpa mengubah konteks aslinya. Untuk menyaksikan obrolan lengkap dan keseruan sesi interview selengkapnya bersama para member Togenashi Togeari, kamu bisa menonton video resminya di channel YouTube SeputarOtaku.
Tagar
Rekomendasi
AFAID26 Resmi Usai, Sukses Rayakan Satu Dekade Anime Festival Asia Indonesia Selama Dua Hari di ICE BSD City – See You Next Year!
2 weeks ago
Meriah dan Penuh Warna, Hari Pertama AFAID26 Sukses Digelar di ICE BSD City Hari Kedua AFAID26 Jadi Puncak Kemeriahan dengan Debut TOGENASHI TOGEARI dan Talk Show Bersama Ilustrator LAM
2 weeks ago
AFA ID 2026 Resmi Dibuka di ICE BSD: Rayakan Satu Dekade Festival Pop Culture Jepang Terbesar
2 weeks ago
Anime Festival Asia Indonesia Rayakan Satu Dekade dengan Deretan Bintang Utama di Panggung, Menampilkan Dave Rodgers, Noriko Hidaka, dan Manabu Otsuka
3 weeks ago
Komentar
0 komentar di artikel ini
Komentar memakai akun Mokultur agar moderasi dan identitas komunitas tetap rapi.