Berita

Anaknya Dilarikan ke Rumah Sakit, Seorang Ayah di China Tuntut Perusahaan Game

Seorang pria bermarga Qin melayangkan gugatan hukum terhadap empat nama besar di industri hiburan digital, yakni NetEase, miHoYo, Tencent, dan 37 Interactive Entertainment di Pengadilan Kabupaten Tanghe, Provinsi Henan.

👁 10
Daftar Isi
  1. Kronologi Gugatan dan Penyebab Anak Masuk Rumah Sakit
  2. Tuntutan Simbolis untuk Memperketat Perlindungan Anak

Isu ketergantungan pada game mobile kembali memicu polemik sosial, di mana kasus pria Tiongkok tuntut perusahaan game raksasa kini tengah menyita perhatian publik.

Melansir laporan dari South China Morning Post, seorang pria bermarga Qin melayangkan gugatan hukum terhadap empat nama besar di industri hiburan digital, yakni NetEase, miHoYo, Tencent, dan 37 Interactive Entertainment di Pengadilan Kabupaten Tanghe, Provinsi Henan.

Kronologi Gugatan dan Penyebab Anak Masuk Rumah Sakit

Langkah hukum terkait gugatan anak kecanduan game Tiongkok ini bermula dari insiden medis yang menimpa keluarga Qin.

Pada 23 Mei lalu, putra Qin yang baru menginjak usia 18 tahun terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi 18 pil obat penurun demam sekaligus.

Meskipun sang anak belum mengungkapkan alasan pasti di balik tindakan berbahaya tersebut, Qin mencurigai bahwa kondisi psikologis anaknya sangat dipengaruhi oleh kebiasaan bermain gim yang sudah tidak terkontrol.

Berdasarkan data aktivitas salah satu akun permainan milik anaknya, remaja tersebut tercatat telah menghabiskan waktu hingga 1.868 jam dengan rata-rata 2,44 jam per hari sejak Maret 2024.

Putra Qin diketahui kerap begadang hingga larut malam di akhir pekan. Demi menghindari sistem verifikasi umur, sang anak diduga menggunakan identitas kakak perempuannya yang sudah dewasa saat mendaftarkan akun.

Tuntutan Simbolis untuk Memperketat Perlindungan Anak

p

Melalui tuntutan NetEase miHoYo Tencent serta 37 Interactive Entertainment ini, Qin sebenarnya hanya meminta ganti rugi sebesar 10 Yuan (sekitar Rp26 ribu).

Ia menegaskan bahwa aksinya sama sekali bukan karena motif finansial, melainkan bentuk dorongan moral agar pihak pengembang dan pengadilan benar-benar serius memperketat kontrol terhadap aktivitas bermain anak-anak.

Di Tiongkok sendiri, pemerintah sebenarnya sudah memberlakukan batasan game anak di bawah umur yang sangat ketat sejak tahun 2021.

Berdasarkan regulasi nasional tersebut, anak-anak hanya diizinkan memainkan gim daring pada pukul 20.00 hingga 21.00 WIB setiap hari Jumat, akhir pekan, dan hari libur nasional.

Fenomena gugatan seperti ini memperlihatkan bahwa celah pengawasan masih sering dimanfaatkan oleh pengguna, sehingga peran aktif keluarga dan penyedia layanan tetap sangat dibutuhkan.

Komentar

0 komentar di artikel ini

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.