Game

Seorang Siswa Berusia 15 Tahun di Jepang Ditangkap Karena Hack Situs Bandai Channel dengan Malware Buatan ChatGPT

Kasus ini menjadi perhatian karena pelaku diduga memanfaatkan ChatGPT untuk membantu membuat malware yang digunakan dalam aksinya.

👁 11
Daftar Isi
  1. Diduga Mengakses Server Secara Ilegal Sejak 2025
  2. Belajar Pemrograman Sejak SD
  3. Terus Mengubah Alamat IP
  4. Dilacak Lewat Catatan Komunikasi
  5. Data Pengguna Tidak Disalahgunakan

Kepolisian Jepang menangkap seorang siswa SMA berusia 15 tahun atas dugaan melakukan serangan siber terhadap Bandai Channel, layanan streaming anime dan tokusatsu berbasis langganan milik Bandai Namco.

Kasus ini menjadi perhatian karena pelaku diduga memanfaatkan ChatGPT untuk membantu membuat malware yang digunakan dalam aksinya.

Diduga Mengakses Server Secara Ilegal Sejak 2025

Berdasarkan laporan TBS News Dig, pelajar tersebut diduga beberapa kali mengakses server Bandai Channel tanpa izin sejak November 2025.

Melalui serangan tersebut, ia diduga membatalkan langganan lebih dari 46.000 akun pengguna.

Akibat gangguan tersebut, Bandai Namco sempat menghentikan sementara layanan Bandai Channel untuk melakukan penanganan dan pemulihan sistem.

Polisi menjerat remaja tersebut dengan dugaan menghalangi jalannya bisnis melalui akses ilegal terhadap sistem perusahaan.

Belajar Pemrograman Sejak SD

Bandai Channel

Menurut hasil penyelidikan, tersangka mulai mempelajari pemrograman secara otodidak sejak masih duduk di kelas empat sekolah dasar.

Saat insiden terjadi, ia masih berada di kelas tiga SMP. Polisi menyebut pelaku menemukan celah keamanan setelah menganalisis data komunikasi antara aplikasi dan server Bandai Channel.

Setelah memahami kerentanan tersebut, ia kemudian menggunakan ChatGPT untuk membantu membuat malware yang dipakai dalam serangan.

Terus Mengubah Alamat IP

Bandai Namco diketahui sempat memblokir akses pelaku setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Namun, polisi menyebut remaja tersebut terus kembali mengakses sistem dengan mengganti alamat IP sekitar 30 kali, sehingga tetap dapat membatalkan langganan para pengguna.

Serangan yang berlangsung berulang kali itu akhirnya mendorong Bandai Namco melaporkan kasus tersebut kepada Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo.

Dilacak Lewat Catatan Komunikasi

Melalui penyelidikan terhadap log komunikasi dan berbagai bukti digital lainnya, polisi berhasil mengidentifikasi pelaku.

Penangkapan dilakukan pada Juni 2026, dan menurut pihak berwenang, remaja tersebut telah mengakui perbuatannya.

Dalam keterangannya kepada penyidik, ia mengaku tidak memiliki dendam terhadap Bandai Namco.

Sebaliknya, ia mengklaim melakukan aksi tersebut semata-mata karena mengetahui bahwa dirinya dapat mengakses banyak akun pengguna.

Data Pengguna Tidak Disalahgunakan

Selama menjalankan aksinya, pelaku diketahui sempat memperoleh informasi berupa alamat email dan nama pengguna milik pelanggan Bandai Channel.

Meski demikian, polisi menyatakan hingga saat ini tidak ditemukan bukti bahwa informasi pribadi tersebut digunakan untuk tindakan kriminal lain atau disalahgunakan.

Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa kemampuan teknis, termasuk pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan, dapat digunakan untuk tujuan yang melanggar hukum apabila disalahgunakan.

Pihak berwenang Jepang masih melanjutkan proses hukum serta penyelidikan untuk memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam insiden tersebut.

 
 

Komentar

0 komentar di artikel ini

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.