Alasan Kenapa Studio Gainax Yang Menciptakan Anime Evangelion Bisa Bangkrut?!
Membedah Faktor Kebangkrutan Dari Studio Gainax
Sejarah Kejayaan Gainax
Sebelum dikenal sebagai “Gainax” studio ini awalnya bernama “Daicon Film”, didirikan tahun 1984 oleh sekelompok mahasiswa yang di antaranya ada Hideaki Anno, sosok yang kelak jadi kreator Evangelion. Dari studio kecil ini lahir deretan karya yang sampai sekarang masih dianggap masterpiece Gunbuster, FLCL, sampai Gurren Lagann. Puncaknya tentu Neon Genesis Evangelion, yang tayang 1995 dan membukukan pendapatan global lebih dari 2 miliar dolar AS, angka yang langsung mengangkat nama Gainax di industri.

Banyaknya Problem Sejak 2012
Titik baliknya dimulai ketika sejumlah eksekutif mulai memperlakukan perusahaan seperti properti pribadi mereka sendiri. Mulai dari ekspansi ke bisnis restoran yang gagal total, pendirian perusahaan CG tanpa perencanaan matang, sampai pinjaman besar tanpa jaminan yang mengalir ke kantong eksekutif individu. Dari sinilah kondisi keuangan Gainax mulai goyah, royalti telat dibayar, gugatan utang pun bermunculan.

Drama Direktur Studio
Situasi makin runyam di tahun 2018, ketika Tomohiro Maki direktur yang sudah menjabat sejak 1992 mengalihkan sahamnya ke pihak yang bahkan nggak punya latar belakang kuat di industri animasi. Setahun kemudian, Tomohiro Maki pun ditangkap oleh kepolisian Jepang atas kasus pelecehan seksual terhadap calon seiyuu remaja, dengan modus dalih pemotretan dan pijat. Sejak momen itu, Gainax semakin downfall dan mulai berhenti memproduksi anime lagi meski masih memiliki utang lama yang terus menumpuk.

Usaha Penyelamatan IP
Walaupun bukan untuk menyelamatkan Gainax sebagai perusahaan, tapi mencegah reputasi dan hak IP Evangelion ikut hancur bareng dengan skandal Maki. Usai penangkapan itu, Hideaki Anno secara khusus meminta bantuan Kadokawa, King Records, dan Studio Trigger untuk sama-sama duduk di jajaran direksi baru Gainax sejak Februari 2020. Bersama Khara Studio yang berstatus kreditur, bersama-sama mereka menarik kembali beberapa hak cipta karya yang sudah dijual/dipindahkan tanpa izin kreator aslinya.

Akhir dan Kebangkrutan
Utang yang menumpuk sejak 2012 akhirnya terlalu besar untuk diselesaikan. Dan pada 29 Mei 2024, Gainax resmi mengajukan status bangkrut ke Pengadilan Distrik Tokyo. Setelah prosesnya rampung, Gainax resmi dibubarkan sebagai korporasi pada 10 Desember 2025, menutup sejarah 42 tahun. Anno sendiri mengumumkan penutupan ini, sementara hak Evangelion sepenuhnya diamankan di bawah Khara Studio.

Bukan Cuma Gainax
Sepanjang 2025, delapan perusahaan animasi Jepang tercatat tutup atau bangkrut, melanjutkan tren tiga tahun berturut-turut. Ironisnya, ini terjadi saat pasar anime Jepang mencatat rekor tertinggi, hingga tembus 25 miliar dolar AS di 2024. Media Jepang menyebut paradoks ini sebagai "profitless boom" dimana industrinya booming global, tapi studio di baliknya tetap kesulitan untuk terus bertahan.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kebangkrutan Gainax bukan soal karyanya gagal, tapi murni akibat miss manajemen internal yang sangat buruk hingga munculnya banyak hutang dan dibiarkan menumpuk sejak 2012. Ironisnya, karya-karya legendarisnya justru tetap hidup lewat pihak lain seperti Evangelion yang sekarang ada di bawah naungan Khara Studio sementara nama besar yang melahirkannya justru menghilang dari industri anime.

Tagar
Rekomendasi
Agraph: Mengenal Sosok Dibalik Soundtrack Anime Epic
2 months ago
Studio Khara Rayakan 20 Tahun, Hideaki Anno Siapkan Proyek Baru Evangelion
3 months ago
Toei Perkenalkan THE KAMENRIDER ANIMATED
4 months ago
KADOKAWA Dirikan Studio Animasi Baru
4 months ago
Komentar
0 komentar di artikel ini
Komentar memakai akun Mokultur agar moderasi dan identitas komunitas tetap rapi.