Jepang

Banyak Adegan Sensitif, BPO Bahas Anime Yani Neko Chainsmoker Cat Usai Banjir Komplain Penonton!

Langkah pengawasan ini dilakukan menyusul banyaknya keluhan dari masyarakat terkait tayangan komedi larut malam garapan Bibury Animation Studio Yani Neko tersebut.

👁 12
Daftar Isi
  1. Sorotan Komplain Penonton Soal Adegan Merokok dan Penyuntikan Zat
  2. Debat Kebebasan Berekspresi Anime Larut Malam

Organisasi Etika Penyiaran dan Peningkatan Program Jepang (BPO) baru-baru ini menyita perhatian publik setelah BPO bahas anime Yani Neko Chainsmoker Cat dalam agenda rapat resmi mereka.

Langkah pengawasan ini dilakukan menyusul banyaknya keluhan dari masyarakat terkait tayangan komedi larut malam garapan Bibury Animation Studio Yani Neko tersebut.

Seri anime yang menceritakan koeksistensi manusia dan manusia hewan ini menjadi sorotan tajam karena dinilai terlalu gamblang dalam menampilkan adegan perokok berat pada karakter utamanya.

Sorotan Komplain Penonton Soal Adegan Merokok dan Penyuntikan Zat

Chainsmoker Cat

Sebagai pengawas independen penyiaran di Jepang, komite pemuda BPO menggelar pertemuan khusus untuk mengevaluasi komplain penonton anime Yani Neko yang masuk sejak penayangannya di TV dan Netflix pada Juli lalu.

Poin utama yang menjadi keresahan publik tidak hanya berfokus pada kebiasaan merokok sang protagonis perempuan bertelinga kucing, tetapi juga menyasar adegan merokok narkoba anime Yani Neko, khususnya adegan penyuntikan zat tertentu ke tubuh sendiri yang dinilai mirip dengan penggunaan obat-obatan terlarang.

Sejumlah penonton mempertanyakan kelayakan adegan sensitif tersebut jika ditayangkan secara berulang di layar kaca.

Beberapa pihak mengkhawatirkan dampaknya terhadap norma sosial, mengingat isu penyalahgunaan narkotika saat ini sedang menjadi perhatian serius di Tiongkok maupun Jepang.

Debat Kebebasan Berekspresi Anime Larut Malam

Chainsmoker Cat

Meski sempat memicu perdebatan sengit di internal komite, mayoritas anggota BPO sepakat untuk tetap menghormati kebebasan berekspresi anime larut malam.

Pihak penyiaran dinilai sudah bertindak bijak dengan menempatkan jam tayang pada late-night slot, yakni waktu di mana anak-anak dan remaja sudah sangat kecil kemungkinannya untuk menonton televisi.

Selain itu, BPO menilai bahwa adegan penyuntikan dalam bentuk animasi tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan penggunaan zat ilegal, sehingga dampaknya tidak bisa disamakan dengan tayangan live-action.

Karena dinilai masih dalam batas wajar ekspresi kreatif sebuah karya fiksi, BPO akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang investigasi dan menghentikan pembahasan kasus ini ke tahap selanjutnya.

Komentar

0 komentar di artikel ini

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.