Penelitian Ungkap User ChatGPT yang Membuat Skenario Natsuki Hamil
Dalam salah satu versi cerita, paramedis tiba dan memberikan dialog penutup: “Selamat, Natsuki. Ini bayi perempuan yang cantik.”
Sebuah obsesi aneh di dunia maya baru saja terungkap lewat penelitian ilmiah. Seorang pengguna anonim diketahui telah meminta ChatGPT untuk menulis adegan fanfiction (cerita fiksi buatan penggemar) yang sama persis sebanyak ribuan kali.
Uniknya, cerita yang diulang-ulang tersebut adalah momen persalinan salah satu karakter dari game populer Doki Doki Literature Club (DDLC).
Fenomena menggelitik ini ditemukan secara tidak sengaja oleh para peneliti dari Universitas Washington dan Universitas Colorado Boulder.
Awalnya, studi tersebut bertujuan untuk memetakan bagaimana masyarakat memanfaatkan AI untuk menulis fiksi, mulai dari cerita orisinal, fanfic, hingga konten erotis.
Namun saat menyisir setengah juta data percakapan publik, para peneliti justru menemukan satu pola data yang sangat mencolok dan tidak biasa.
Skenario yang Sama, Diulang Ribuan Kali
Dalam ribuan eksperimen mandiri yang dilakukan si pengguna misterius, plot ceritanya selalu sama: Natsuki, salah satu siswi dalam game DDLC, mendadak mengalami kontraksi dan melahirkan di dalam ruang klub sastra.
Teman-temannya panik, lalu ChatGPT akan melengkapi sisa ceritanya dengan variasi akhir yang sedikit berbeda setiap kali diminta.

Menariknya, setiap perintah teks (prompt) yang dimasukkan pengguna tersebut selalu terputus di tengah-tengah adegan jeritan, membiarkan AI menyelesaikan momen klimaks tersebut sendiri.
Dalam salah satu versi cerita, paramedis tiba dan memberikan dialog penutup: “Selamat, Natsuki. Ini bayi perempuan yang cantik.” Skenario spesifik ini dijalankan secara konsisten selama berbulan-bulan.
Fenomena "Pencari Cerita Tak Terbatas"
Data unik ini terkuak dari WildChat, sebuah kumpulan data publik yang menampung lebih dari 500.000 percakapan ChatGPT berbahasa Inggris sepanjang tahun 2023 dan 2024. Dari analisis tersebut, ditemukan bahwa sekitar sepertiga dari total percakapan melibatkan penulisan fiksi.
Namun, ada temuan menarik mengenai perilaku pengguna:
-
Dominasi Minoritas: Hanya 2% pengguna aktif yang bertanggung jawab atas lebih dari 80% total percakapan fiksi yang tercatat.
-
Istilah Baru: Para peneliti menciptakan istilah "Infinite Story Seekers" (Pencari Cerita Tak Terbatas) untuk menggambarkan tipe pengguna yang terobsesi mengulang-ulang satu premis cerita secara masif.
-
Sopran Terpopuler: Berkat aksi satu pengguna anonim ini, Doki Doki Literature Club sukses memuncaki daftar waralaba game yang paling sering disebut dalam studi, mengalahkan judul raksasa seperti League of Legends dan Naruto.
Meskipun sekitar seperempat dari permintaan fiksi di WildChat dikategorikan bersifat eksplisit secara seksual, utas cerita persalinan Natsuki ini dinilai para peneliti masih tetap berada dalam batas yang sopan dan tidak melanggar sensor ketat AI.
Akankah AI Menggantikan Penulis Manusia?
Di balik anekdotnya yang menggelitik, studi ini memicu diskusi serius di kalangan akademisi. Para peneliti mempertanyakan apakah fiksi berbasis AI generatif lambat laun dapat secara diam-diam menggantikan peran pembaca dan penulis manusia seutuhnya, terutama untuk memuaskan fantasi atau obsesi spesifik seseorang secara instan.
Tahun 2026 sendiri memang menjadi tahun yang penuh dinamika bagi industri kreatif dan AI. Selain fenomena fanfic DDLC ini, publik sebelumnya dikejutkan dengan ditariknya game Doki Doki Literature Club dari Google Play Store, hingga kasus dicabutnya penghargaan sebuah novel AI yang sempat memenangkan kontes sastra resmi.
Rekomendasi
Berbagai Brand Sindir PlayStation Akibat Kebijakan Barunya yang Menghentikan Perilisan Fisik Game
22 minutes ago
PUBG MOBILE Rilis Teaser Anime Resmi Kolaborasi Naruto, Rilis 9 Juli
1 day ago
Papergames Batalkan Karakter Valko di Love and Deepspace, Kontroversi Besar Guncang Komunitas
2 days ago
Bandai Namco Studios Akhirnya Kembali Raih Keuntungan Signifikan
4 days ago
Komentar
0 komentar di artikel ini
Komentar memakai akun Mokultur agar moderasi dan identitas komunitas tetap rapi.