Jepang
Warga Negara Asing Resahkan Slogan Japanese First di Jepang
Warga Negara Asing Resahkan Slogan Japanese First di Jepang

Slogan Japanese First yang digaungkan oleh partai populis Sanseito tengah memicu kekhawatiran besar, terutama di kalangan warga negara asing di Jepang. Dengan jumlah penduduk asing yang meningkat pesat, penggunaan slogan tersebut menimbulkan perdebatan sengit tentang diskriminasi, xenofobia, hingga dampaknya pada kehidupan sosial masyarakat. Polemik ini memperlihatkan bagaimana sebuah slogan dapat mengubah dinamika hubungan antara warga lokal dan warga negara asing di Jepang.

Warga Negara Asing dan Kontroversi Slogan Japanese First

Partai Sanseito mengejutkan Jepang setelah berhasil memperoleh kursi dalam pemilihan majelis tinggi. Namun, slogan Japanese First menimbulkan kritik tajam karena dinilai bersifat xenofobia. Warga negara asing di Jepang khawatir terhadap diskriminasi yang mungkin meningkat akibat slogan tersebut. Jumlah penduduk asing di Jepang pada 2024 bahkan naik lebih dari 10 persen menjadi 3,76 juta jiwa, atau sekitar 3 persen dari total populasi, sehingga keberadaan warga negara asing menjadi isu penting dalam wacana politik.

Kritik dari Warga Negara Asing atas Slogan Japanese First

Shin Sugok, seorang warga negara asing keturunan Korea generasi ketiga di Jepang, menyebut bahwa slogan Japanese First bisa memicu diskriminasi, eksklusi, bahkan kekerasan massa. Ia menerima banyak keluhan dari warga negara asing keturunan Asia yang merasa tidak aman berjalan di jalanan. Bahkan, beberapa orang takut dipanggil namanya di rumah sakit atau saat melakukan pemesanan telepon. Menurutnya, solidaritas massa yang mendukung slogan Japanese First berbahaya karena menyerupai pola diskriminasi di era Jerman Nazi. Dengan demikian, warga negara asing menjadi semakin resah terhadap konsekuensi sosial dari slogan ini.

Perspektif Warga Negara Asing dengan Kewarganegaraan Jepang

Sandra Haefelin, seorang warga negara asing kelahiran Jerman yang sudah 27 tahun tinggal di Jepang dan memiliki kewarganegaraan Jepang, juga merasa tidak nyaman dengan slogan Japanese First. Ia menyatakan, “Ketika politisi mengatakan ‘untuk rakyat Jepang,’ saya rasa mereka tidak memasukkan orang-orang seperti saya.” Menurut Haefelin, meskipun secara hukum sudah menjadi warga negara Jepang, penilaian masih sering didasarkan pada penampilan. Slogan Japanese First akhirnya justru berpotensi mempertegas diskriminasi terhadap warga negara asing maupun keturunan asing.

Analisis Akademisi terhadap Slogan Japanese First

Jeff Kingston, profesor di Temple University Tokyo, menyebut Sanseito sebagai partai sayap kanan ultra. Ia menilai bahwa slogan Japanese First merupakan bentuk etnonasionalisme yang mempolitisasi isu imigrasi. Menurutnya, ekonomi Jepang berisiko lumpuh tanpa kehadiran warga negara asing sebagai tenaga kerja. Namun, Sanseito justru menjadikan isu ini sebagai alat politik untuk menarik dukungan, khususnya dari kalangan anak muda. Kingston menegaskan, “Seruan untuk membatasi konsentrasi penduduk asing bersifat diskriminatif,” sehingga jelas bahwa slogan Japanese First menimbulkan masalah serius bagi warga negara asing.

 

Sumber