Berita Prefektur Kyoto Berencana Menaikan Pajak Tamu Hotel, Menjadi Pajak Akomodasi Tertinggi di Jepang

Kyoto, yang sudah lama menjadi destinasi favorit wisatawan di Jepang, kini mengalami lonjakan pengunjung yang luar biasa. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama: tingginya permintaan wisata pasca-pandemi ketika Jepang menutup pintunya untuk perjalanan internasional, serta nilai tukar yen yang rendah, menjadikan negara ini semakin terjangkau bagi turis asing. Namun, ada kabar yang bisa mengubah dinamika ini. Kyoto sedang mempertimbangkan kenaikan pajak akomodasi hingga 10.000 yen (sekitar 64 dolar AS) per orang per malam, sebuah langkah yang dapat memengaruhi biaya perjalanan ke kota tersebut.

Sejak Oktober 2018, Kyoto memberlakukan pajak akomodasi bertingkat untuk tamu hotel, termasuk ryokan (penginapan tradisional Jepang). Saat ini, pajaknya dibagi menjadi tiga tingkatan: kamar dengan harga di bawah 20.000 yen dikenakan pajak 200 yen per malam per orang, kamar seharga 20.000–49.999 yen dikenakan pajak 500 yen, dan kamar dengan tarif 50.000 yen atau lebih dikenakan pajak 1.000 yen.

Namun, laporan dari Yomiuri Shimbun mengungkapkan bahwa Kyoto sedang merancang sistem baru dengan lima tingkatan pajak. Pajak terendah sebesar 200 yen tetap ada, tetapi hanya berlaku untuk kamar di bawah 6.000 yen per malam. Tingkatan lainnya belum diumumkan secara rinci, tetapi tingkat pajak tertinggi akan mencapai 10.000 yen per orang per malam untuk kamar dengan harga 100.000 yen (sekitar 637 dolar AS) atau lebih. Ini menjadikan Kyoto sebagai kota dengan pajak akomodasi tertinggi di Jepang, yang jelas menargetkan segmen wisatawan kelas atas.

Pakutaso 2

Dokumentasi: Pakutaso

Kenaikan ini juga berpotensi berdampak besar pada wisatawan dengan anggaran terbatas. Dengan batas tarif pajak terendah yang turun dari 20.000 yen menjadi 6.000 yen, semakin banyak kamar yang mungkin terkena pajak lebih tinggi. Mengingat sulitnya menemukan penginapan di Kyoto dengan harga di bawah 6.000 yen selain asrama, hotel kapsul, atau hostel, wisatawan kelas bawah mungkin merasakan dampak ini secara langsung.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya Kyoto untuk menyeimbangkan reputasinya sebagai kota dengan layanan perhotelan terbaik di Jepang dengan tantangan yang ditimbulkan oleh overtourism, seperti peningkatan jumlah sampah dan tekanan pada transportasi umum yang membuat penduduk lokal merasa tergeser. Peningkatan pendapatan dari pajak ini diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Walikota Kyoto, Koji Matsui, yang menjadikan kenaikan pajak akomodasi sebagai salah satu janji kampanyenya, mengungkapkan bahwa selama tahun fiskal 2023, pajak akomodasi menghasilkan pendapatan tertinggi dalam sejarah kota, yaitu 5,2 miliar yen. Namun, tanpa rincian spesifik tentang alokasi dana tersebut, sulit untuk memastikan apakah jumlah ini cukup untuk mengatasi tantangan yang ada.

Jika proposal ini disetujui oleh dewan kota pada Februari mendatang, sistem pajak baru diperkirakan mulai berlaku pada tahun 2026. Bagi wisatawan, ini berarti biaya perjalanan ke Kyoto mungkin akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Penulis
Danindra
Danindra
bang Dan