Anime
Kritikus Musik Jepang Soroti Ketergantungan J-Pop pada Lagu Tema Anime
Kritikus Musik Jepang Soroti Ketergantungan J-Pop pada Lagu Tema Anime

Seputar Otaku - Industri musik Jepang kembali menjadi sorotan setelah kritikus musik ternama Mino menerbitkan esai yang menyoroti fenomena besar di industri J-Pop. Dalam tulisannya, ia menyebut bahwa musik pop Jepang kini semakin bergantung pada kolaborasi dengan anime, drama, atau iklan, hingga membuat musik independen semakin sulit berkembang.

Menurut analisisnya terhadap tangga lagu Billboard Japan Hot 100 tahun 2025, hanya dua dari sepuluh lagu terpopuler yang tidak memiliki hubungan dengan proyek media lain seperti anime atau kampanye iklan. Sisanya merupakan lagu yang dibuat khusus sebagai tie-in, yaitu musik yang diproduksi untuk mendukung film, serial, anime, atau iklan.

Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya musisi besar Jepang yang merilis lagu tema untuk proyek populer. Nama-nama seperti LiSA, Kenshi Yonezu, dan King Gnu dikenal luas di dunia internasional berkat lagu yang digunakan sebagai opening atau ending anime.

king Gnu

King Gnu

Sebagai contoh, album THE GREATEST UNKNOWN dari King Gnu disebut memiliki 13 dari 14 lagu yang dibuat sebagai lagu tema untuk berbagai proyek seperti anime atau drama televisi. Artinya lebih dari 90% lagu dalam album tersebut terhubung dengan proyek media tertentu.

Mino juga memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai “aturan 89 detik.” Karena durasi opening anime televisi biasanya sekitar satu setengah menit, banyak lagu kini dirancang agar bagian paling menarik—seperti chorus atau hook—muncul dalam 89 detik pertama. Akibatnya, struktur musik pop Jepang semakin mengikuti formula yang cocok untuk pembukaan anime.

Menurutnya, model bisnis ini membuat banyak label melihat musisi sebagai “pembuat lagu tema” daripada kreator musik independen. Di sisi lain, keterkaitan dengan anime juga terbukti menjadi pintu besar bagi J-Pop untuk dikenal secara global.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah dominasi lagu tema anime justru memperluas pasar J-Pop, atau malah membatasi kebebasan kreatif para musisinya?