Industri Anime Jepang terus menunjukkan kekuatan global, terutama lewat karya populer seperti Sword Art Online yang semakin dikenal luas. Perkembangan ini memunculkan diskusi serius mengenai posisi Anime di tengah melemahnya dominasi Hollywood, sekaligus menyoroti bagaimana Sword Art Online dan judul lain berkontribusi terhadap peta hiburan dunia.
Anime Jepang dan Sword Art Online di Era Global
Sepanjang 2025, Anime Jepang berada dalam fase pertumbuhan yang sangat signifikan, ditandai oleh kesuksesan film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle sebagai film Jepang terlaris secara global. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Anime seperti Sword Art Online bukan lagi sekadar tontonan niche, melainkan telah menjadi bagian penting dari industri hiburan internasional. Dukungan pemerintah Jepang terhadap ekspansi konten kreatif juga semakin memperkuat posisi Anime di pasar dunia, termasuk judul legendaris seperti Sword Art Online.

Tomohiko Ito, sutradara yang dikenal lewat Sword Art Online dan Erased, menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan Daily Shincho. Menurut Ito, Anime Jepang memiliki potensi besar untuk “menggantikan” posisi Hollywood dalam industri hiburan global. Ia menilai melemahnya pengaruh Hollywood akibat pandemi serta pemogokan industri beberapa tahun terakhir membuka peluang luas bagi Anime, termasuk karya populer seperti Sword Art Online, untuk mengambil peran yang lebih dominan.
Ito juga menyinggung bahwa keberhasilan Anime secara global mulai terasa sejak Aniplex mengakuisisi Crunchyroll pada 2020. Sejak momen tersebut, Anime Jepang, termasuk Sword Art Online, lebih mudah diakses oleh penonton internasional dan berhasil memasuki arus utama hiburan global. Keberhasilan film seperti Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc semakin mempertegas posisi Anime Jepang di pasar internasional.

Meski optimistis, Ito mengingatkan bahwa kreator Anime tidak seharusnya terlalu memaksakan diri mengejar selera pasar global. Ia menilai banyak Anime gagal karena terlalu berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang dianggap disukai penonton internasional, termasuk mengorbankan identitas kreatif seperti yang melekat pada Sword Art Online. Perbedaan sudut pandang budaya kerap membuat hasil akhirnya justru tidak relevan di pasar luar Jepang.
Ito menyoroti perbedaan sensitivitas budaya, terutama terkait norma sosial dan political correctness. Ia menyebut Jepang masih memiliki kebebasan kreatif untuk menghasilkan Anime unik seperti Sword Art Online, termasuk konsep visual atau cerita yang mungkin dianggap aneh di Barat. Justru keunikan inilah yang menurut Ito menjadi kekuatan utama Anime Jepang.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Hideaki Anno, sutradara Neon Genesis Evangelion. Anno menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuat Anime dengan target pasar luar negeri, termasuk saat Sword Art Online dan judul lain meraih popularitas global. Baginya, prioritas utama adalah menciptakan karya yang diterima di Jepang. Jika kemudian disukai penonton global, hal tersebut hanyalah bonus, bukan tujuan utama.
Rekomendasi
Player Theotown Indonesia Mendapat Perhatian Dari Developer Gamenya
53 menit yang lalu
Akibat Terlalu Populer, Aktivitas Login Dalam Game Theotown Android Sempat Dibatasi Oleh Google
1 jam yang lalu
Jadwal Rilis GTA VI Dirumorkan Kembali Terancam Mundur
1 jam yang lalu
The Witcher Netflix Resmi Tamat di 2026 Setelah 5 Season
1 jam yang lalu