Anime
Jepang Kembangkan "Terapi Anime" untuk Kesehatan Mental Generasi Muda
Jepang Kembangkan "Terapi Anime" untuk Kesehatan Mental Generasi Muda

Seputar Otaku - Dalam upaya menjangkau generasi muda secara lebih efektif, para peneliti di Jepang meluncurkan sebuah gagasan inovatif bertajuk Terapi Anime. Proyek eksperimental ini dirancang untuk memberikan dukungan psikologis daring bagi kaum muda berusia 18 hingga 29 tahun, dengan memanfaatkan bahasa visual dan narasi yang sudah akrab bagi mereka.

Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa metode konseling konvensional kerap terasa menakutkan atau terlalu formal bagi generasi muda, sehingga menghambat mereka untuk mencari bantuan profesional.

Terapi Psikologis Bergaya Visual Novel

visual novel


Terapi Anime dikembangkan oleh Minds1020Lab, pusat penelitian yang berafiliasi dengan Universitas Kota Yokohama, bekerja sama dengan perusahaan Dai Nippon Printing. Program ini resmi dimulai pada 1 Oktober 2025 dan direncanakan berlangsung hingga Juni 2026.

Berbeda dengan sesi terapi tradisional, sistem ini dirancang menyerupai visual novel. Peserta akan berinteraksi dalam lingkungan fiksi interaktif, alih-alih berbicara langsung dalam format konsultasi formal.

Pengguna dapat memilih salah satu dari enam avatar orisinal yang dikembangkan bersama Francesco Panto, seorang psikiater asal Italia. Setiap karakter memiliki latar belakang cerita, konflik personal, serta kepribadian yang berbeda, sehingga memungkinkan peserta untuk memproyeksikan emosi mereka sendiri ke dalam narasi yang disajikan.

Melalui pendekatan ini, pengguna dapat membahas topik sensitif—seperti tekanan emosional, kecemasan, atau kesulitan bersosialisasi—dalam suasana yang lebih aman dan tidak mengintimidasi dibandingkan ruang praktik medis.

Menurunkan Hambatan Mencari Bantuan
Terapi Anime merupakan bagian dari program nasional COI-NEXT, sebuah inisiatif pemerintah Jepang yang berfokus pada pencarian solusi inovatif untuk masalah sosial. Salah satu tujuan utama proyek ini adalah menguji apakah keterlibatan dalam dunia fiksi dan narasi visual dapat menurunkan hambatan psikologis bagi kaum muda yang membutuhkan bantuan mental.

Para peneliti juga ingin mengetahui sejauh mana metode ini mampu meningkatkan ketahanan mental serta mendorong generasi muda untuk lebih terbuka dalam mengenali dan mengelola kondisi emosional mereka.