Jepang
Japan Tunda Kunjungan Bisnis ke China Akibat Isu Taiwan
Japan Tunda Kunjungan Bisnis ke China Akibat Isu Taiwan

Hubungan ekonomi Japan, China, dan isu Taiwan kembali menjadi sorotan setelah delegasi bisnis besar dari Japan memutuskan menunda kunjungan resmi ke China. Penundaan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik akibat pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi terkait Taiwan, yang dinilai sensitif oleh pihak China dan berdampak langsung pada agenda kerja sama ekonomi kedua negara.

Ketegangan Japan dan China dalam Konteks Taiwan

Penundaan kunjungan delegasi bisnis ini mencerminkan hubungan yang sedang tidak stabil antara Japan, China, dan persoalan Taiwan. Delegasi yang terdiri dari sekitar 200 anggota tersebut awalnya dijadwalkan melakukan perjalanan selama empat hari ke Beijing mulai 20 Januari. Namun, rencana itu dibatalkan setelah tidak adanya kejelasan dari pihak China terkait permintaan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, sehingga tujuan diplomasi bisnis Japan dinilai tidak akan menghasilkan hasil substansial.

Delegasi tersebut melibatkan tokoh penting dunia usaha Japan, China, dan kepentingan regional Taiwan, seperti Yoshinobu Tsutsui selaku ketua Japan Business Federation, Kosei Shindo sebagai kepala Japan-China Economic Association, serta Ken Kobayashi dari Japan Chamber of Commerce and Industry. Ketiga organisasi ini secara resmi memberitahukan peserta bahwa penundaan dilakukan tanpa jadwal pengganti yang pasti.

Latar Belakang Pernyataan Taiwan yang Picu Ketegangan

Akar permasalahan antara Japan, China, dan isu Taiwan bermula dari pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi di parlemen pada November lalu. Ia menyebut bahwa serangan terhadap Taiwan berpotensi menjadi situasi yang “mengancam kelangsungan hidup” Japan. Pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai sinyal keterlibatan Pasukan Bela Diri Japan dalam mendukung Amerika Serikat berdasarkan hak pertahanan kolektif.

Bagi China, Taiwan merupakan wilayah yang diklaim sebagai bagian dari kedaulatannya. Oleh karena itu, pernyataan Takaichi dipandang sebagai bentuk provokasi yang memperkeruh hubungan Japan, China, dan stabilitas kawasan Taiwan. Ketegangan ini pun berdampak langsung pada hubungan ekonomi yang selama ini terjalin.

Sejarah Kunjungan Bisnis Japan ke China

Kunjungan bisnis bersama oleh organisasi Japan ke China dalam konteks hubungan ekonomi dan stabilitas Taiwan telah berlangsung hampir setiap tahun sejak fiskal 1975. Perjalanan ini secara tradisional menjadi sarana dialog antara pelaku usaha kedua negara untuk menjaga hubungan ekonomi yang pragmatis meski terdapat perbedaan politik.

Namun, sejarah mencatat bahwa kunjungan serupa juga pernah ditunda pada September 2012 setelah Japan membeli sebagian Kepulauan Senkaku, yang juga diklaim oleh China. Meski demikian, delegasi bisnis Japan tetap mengunjungi China pada Maret 2013, menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Japan, China, dan isu Taiwan kerap mengalami pasang surut.

Respons Resmi Pemerintah China

Menanggapi penundaan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan bahwa pihaknya mendesak otoritas berkuasa di Japan untuk menarik kembali pernyataan Perdana Menteri Takaichi terkait Taiwan. Menurutnya, langkah itu diperlukan guna menciptakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya pertukaran normal antara China dan Japan.

Pernyataan resmi ini menegaskan bahwa dinamika politik yang melibatkan Japan, China, dan Taiwan tidak hanya memengaruhi hubungan diplomatik, tetapi juga membawa dampak nyata terhadap agenda ekonomi dan bisnis bilateral.

 

Sumber