Sutradara One Piece Ungkap Alasan Anime Jepang Lebih Populer dari Disney di Pasar Global
Tatsuya Nagamine, sutradara serial anime One Piece (2017, 2019–2025), One Piece Film: Z, dan Dragon Ball Super: Broly, baru-baru ini membagikan pandangannya mengenai mengapa anime Jepang berhasil mendominasi pasar internasional, bahkan di wilayah yang seb
Seputar Otaku - Tatsuya Nagamine, sutradara serial anime One Piece (2017, 2019–2025), One Piece Film: Z, dan Dragon Ball Super: Broly, baru-baru ini membagikan pandangannya mengenai mengapa anime Jepang berhasil mendominasi pasar internasional, bahkan di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau Disney.
Dalam wawancara tersebut, Nagamine juga mengulas pandangannya tentang perkembangan industri anime, digitalisasi produksi, hingga bagaimana karakteristik unik anime Jepang menjadi daya tarik global.
Menurut Nagamine, salah satu alasan utama anime Jepang diterima luas adalah karena keunikan dan eksentriknya.
“Mungkin karena karya-karyanya yang eksentrik. Untuk saat ini, anime Jepang adalah satu-satunya yang punya kebebasan untuk menjadi aneh dan tidak terduga. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” jelasnya.
Nagamine menambahkan, ekspektasi penonton terhadap anime Jepang sama halnya seperti orang yang menonton peragaan busana Prancis penuh kejutan dan tidak biasa. Hal ini menjadi kontras dengan Disney yang cenderung memiliki pola cerita yang dapat diprediksi.
Nagamine menilai bahwa Disney selama ini gagal menghadirkan variasi yang cukup.
“Anime Jepang terutama tayang di televisi, sehingga berubah setiap tiga bulan. Ada beragam karya berbeda yang terus diproduksi. Ini berbeda dengan gaya Disney yang terungkap dengan cara yang dapat ditebak. Saya rasa penggemar luar negeri sudah mulai bosan dengan formula Disney-esque,” ungkapnya.
Shinji Shimizu, penasihat senior di Toei Animation, menambahkan bahwa Disney memiliki sejarah panjang dalam tidak menampilkan animasi asing, terutama dari Jepang.
“Dulu, Amerika enggan menayangkan animasi Jepang di bioskopnya. Disney dianggap sebagai standar animasi Amerika, sehingga ada pandangan dingin terhadap karya Asia,” katanya.
Shimizu juga menyoroti perbedaan mendasar:
- Disney selalu menyajikan cerita dengan akhir bahagia.
Anime Jepang lebih berani, menghadirkan cerita dengan nuansa dewasa, bahkan tak jarang menampilkan protagonis yang meninggal di tengah jalan atau karakter antagonis yang berubah menjadi pahlawan.
- Pandangan Industri Anime Jepang Terhadap Hollywood
Selain Nagamine dan Shimizu, beberapa tokoh industri lain juga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap pandangan Hollywood.
Noritaka Kawaguchi dan Mie Onishi, pendiri sekaligus penasihat CoMix Wave Films (studio di balik Your Name dan Suzume), menyebut bahwa Hollywood masih melihat anime sebagai “alternatif murahan” dan enggan mengakui kualitasnya dalam ajang penghargaan bergengsi.
Dalam bagian lain wawancara, Nagamine juga membahas bagaimana digitalisasi menurunkan biaya produksi, tetapi di sisi lain, meningkatnya tuntutan kualitas membuat biaya animasi semakin tinggi.
Ia menyoroti betapa sulitnya menangkap detail animasi sederhana, seperti gerakan merokok atau duduk, yang justru membutuhkan keterampilan artistik tinggi.
Sementara itu, Shimizu menekankan pentingnya penyebaran anime secara global, karena pasar internasional kini menjadi faktor utama dalam pertumbuhan industri anime.
Rekomendasi
Developer Wuthering Waves, Kuro Games Buka Lowongan Kerja Bagi Desainer yang Familiar dengan AI Generated Content
9 jam yang lalu
Makoto Shinkai Konfirmasi Umumkan Film Anime Baru pada 2026
9 jam yang lalu
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle 2 dan 3 Disebut Tayang 2027 dan 2029, Crunchyroll Beri Klarifikasi
9 jam yang lalu
Dispatch Tembus 3 Juta Copy, Pemain Tanpa Romansa Minoritas
12 jam yang lalu